Kisah tentang Skygers

Menurut saya, Skygers adalah Sekelompok Jelema Gering yang menolak militerisme dalam pendidikan kepecintaalaman. Pemanjat apalagi, tebing dan aktifitas panjat tebing mengajarkan pemanjat untuk jadi merdeka dan mandiri. Dok. SS Batch 33.
Menurut saya, Skygers adalah Sekelompok Jelema Gering yang menolak militerisme dalam pendidikan kepecintaalaman. Pemanjat apalagi, tebing dan aktifitas panjat tebing mengajarkan pemanjat untuk jadi merdeka dan mandiri. Dok. SS Batch 33.

Di Indonesia kisah tentang panjat tebing mengingatkan kita pada Skygers. 

Tentu saja hal itu tidak berarti bahwa hanya para Skygers yang melakukan olahraga ini. Beberapa kelompok pendaki gunung, seperti Mapala UI dan Wanadri yang termasuk kelompok perintis, juga melakukan panjat tebing, tetapi hanya sebagai bagian dari kegiatan mereka. Skygers adalah kelompok pertama yang mengambil bidang panjat tebing sebagai spesialisasi. Dan walaupun mereka juga pendaki gunung, mereka lebih ingin di sebut sebagai pemanjat tebing. 

Skygers mengingatkan orang pada Harry Suliztiarto. Pada tahun 1976, Harry datang dari Surabaya ke Bandung untuk belajar di ITB. Waktu itu dia sudah jadi pecinta alam dan melakukan olahraga jalan kaki dan mendaki gunung secara otodidak, tanpa teknik. Di ITB seorang kawan asal Inggris memberinya sebuah buku mengenai petunjuk panjat tebing: "From hill walking to Alpine Climbing". Bisa dibilang buku itulah yang menjadikan Harry seorang spesialis panjat tebing. 

Rekan-rekannya di Fakultas Seni Rupa ITB bergabung dan berdirilah kelompok Skygers. Bermula dari latihan-latihan dengan peralatan sederhana, sedikit demi sedikit Skygers mengumpulkan perlatan dari luar negeri sambil berusaha membuat peralatan sendiri sampai akhirnya di tahun 1980, Skygers menjadi kelompok panjat tebing yang mempunyai peralatan terlengkap di Indonesia. 

Pada tahun 1979, Harry dan Agus memanjat Planetarium TIM Jakarta. Tahun berikutnya, 1980 dilakukan ekspedisi panjat tebing pertama di Indonesia di gunung Parang berkat dukungan dari JAYAGIRI. 

Perlu digarisbawahi panjat tebing di Indonesia berutang budi pada Dody Kasoem (wakil perusahaan Jayagiri). Jayagiri adalah perusahaan yang menjual alat olahraga outdoor dan indoor di banyak kota di Indonesia. 

Pelaksanaan pemanjatan dan persiapan untuk ekspedisi panjat tebing pertama di Indonesia ini membutuhkan waktu tak kurang dari 26 hari. Pemanjatan berikutnya di tebing Parang hanya berlangsung selama 4 jam. 

Pada tahun 1981, sebuah grup yang terdiri dari 21 mahasiswa ITB (diantaranya adalah anggota Skygers) melakukan pendakian gunung Jayawijaya di Irian Jaya. 

Pada tahun yang sama 3 personil Skygers sepakat mendirikan sekolah memanjat tebing Skygers yang kemudian bernama PERGURUAN MEMANJAT TEBING SKYGERS. 90 persen pendidikan di Skygers diberikan dalam bentuk praktek, dititikberatkan pada Climbing Procedure dan Safety Procedure dengan ratio satu instruktur untuk maksimum 4 siswa. Pendidikan diselenggarakan setahun sekali, direncanakan setahun minimal dua kali untuk masa mendatang. Sampai saat ini Skygers telah menetaskan 6 angkatan, mengadakan kursus-kursis kilat di beberapa kota di Jawa dan Sumatera, kursus privat dan pendidikan memanjat tebing khusus militer pada beberapa kesatuan ABRI. 

Skygers bukanlah perkumpulan yang biasa. Lebih dari segalanya, mereka adalah sekelompok kawan yang sama sama menggandrungi panjat tebing dan bahaya, cinta alam dan haus akan kebebasan. Dan barangkali karena cinta akan kebebasan inilah, dalam kelompok Skygers tak dikenal adanya kartu anggota, iuran atau ikatan apa pun. 


*Tulisan ini diambil dari majalah di bawah ini:





Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar