![]() |
Teori-teori ini menjawab bagaimana cara kerja negara menstabilisasi kapitalisme sebagai tatanan normal, dapat diterima dan mapan, sehingga tak patut digugat. |
2.1.3 RSA, ISA, dan Ideologi Louis Althusser sebagai Kerangka Membaca Anti-Komunisme
Bagi Althusser, ideologi lebih dari sekedar “kesadaran palsu”—seperti yang dirumuskan oleh Marx—di titik ini Althusser menuduh Marx “tidak Marxis” sebab Marx menyatakan ideologi semata-mata kesadaran palsu, seolah-olah hanya beroperasi di ranah kesadaran sehingga tak materil.[9] Padahal, Ideologi adalah mekanisme yang sangat material, efektif, dan penting untuk kelangsungan hidup mode produksi kapitalis. Fungsinya adalah memastikan reproduksi relasi-relasi produksi—yaitu, memastikan hubungan kekuasaan antara kelas pekerja dan pemilik modal terus berlanjut. Untuk klaimnya itu, Althusser mengajukan 2 tesis tentang ideologi.
Althussser membangun konsep RSA dan ISA dari bangunan/skema basis-suprastruktur (materialisme historis) yang sebelumnya telah dikonsepsi oleh Marx dan Engels.[1] Terutama dari teorinya tentang negara. Dalam tradisi Marxis[2], Negara dipahami sebagai alat penindasan. Ia berfungsi sebagai sebuah “mesin”/aparatus represif yang memungkinkan kelas yang berkuasa mempertahankan dominasinya atas kelas pekerja/proletariat. Melalui mekanisme ini, kelas berkuasa dapat menundukkan kelas pekerja ke dalam proses perampasan nilai lebih, yakni bentuk eksploitasi khas dalam sistem kapitalis.
Bagi Althusser, negara harus dipahami dalam dua bentuk utama yang saling melengkapi dan bekerja untuk tujuan fundamental yang sama: reproduksi relasi-relasi produksi.[3] Tujuan utama dari negara, secara keseluruhan, adalah untuk memastikan bahwa kondisi produksi—khususnya hubungan antara pemilik modal dan pekerja—terus direproduksi dari generasi ke generasi, sehingga mode produksi kapitalis dapat berlanjut.
Lebih lanjut menurut Althusser, Inti dari teori Marxis tentang negara adalah: (1) negara adalah aparatus represi negara, (2) kekuasaan negara dan aparatus negara harus dibedakan, (3) tujuan dari perjuangan kelas adalah kekuasaan negara, dan konsekuensinya adalah penggunaan aparatus negara oleh kelas (atau aliansi kelas atau fraksi kelas) yang memegang kekuasaan negara sebagai fungsi dari tujuan kelas mereka, dan (4) kaum proletariat mesti mengambilalih kekuasaan Negara untuk menghancurkan aparatus negara borjuis yang ada dan, di fase pertama, menggantinya dengan aparatus negara proletariat yang agak berbeda, lalu di fase yang kemudian, menggerakkan sebuah proses radikal, yaitu penghancuran negara (akhir dari kekuasaan negara, akhir dari setiap aparatus negara).[4]
Dari titik tolak bangunan basis-suprastruktur dan teori negara Marxis, Althusser menyusun teorinya tentang RSA dan ISA. Dengan cara melakukan pelampauan terhadap teori bangunan basis-suprastruktur menggunakan sudut pandang reproduksi (reproduksi kekuatan produksi dan reproduksi relasi/hubungan produksi), dan oleh karenanya juga pelampauan terhadap teori negara Marxis.[5]
Dalam teori negara Marxis, Althusser melakukan pelampauan berupa penambahan konseptual. Penambahan itu dilakukan mula-mula dengan menekankan perbedaan antara kekuasaan negara dengan aparatus negara—yang pembedaan itu telah termanifestasi dalam analisa Althusser terhadap teori negara Marxis—Althusser menambahkan konsep ideological state apparatuses (ISA).
“Untuk memajukan teori tentang negara, adalah sangat penting untuk mempertimbangkan tidak hanya perbedaan antara kekuasaan negara dan aparatus negara, tetapi juga kenyataan lain yang jelas di sisi aparatus (represi) negara, tetapi tidak boleh dicampuradukkan dengannya. Saya akan menyebut kenyataan ini dengan konsep: aparatus ideologi negara/ideological state apparatuses (ISA).”[6]
Bagi Althusser—yang mengafirmasi teori negara Marxis—negara itu sendiri sudah berwatak represif, namun represifitas negara tidak akan berkelanjutan jika tidak berelasi dengan kerja-kerja “halus” di level ideologi. RSA berfungsi terutama dengan kekerasan atau ancaman kekerasan (koersi), dan secara sekunder dengan ideologi. Aparatus ini bersifat tunggal, terpusat, dan berada di ranah publik (misalnya: pemerintah, administrasi, polisi, tentara, penjara, pengadilan). Peran RSA adalah untuk menjaga ketertiban dan memastikan kepatuhan, khususnya ketika ISA gagal melaksanakan fungsinya.
Sudut pandang reproduksi yang dipakai Althusser menekankan pada keberlanjutan kekuasaan kelas yang berkuasa—dalam hal ini kelas yang memegang kekuasaan negara. Untuk itu, ia menciptakan satu lagi konsep yakni ISA disamping RSA—yang telah manifes dalam teori negara Marxis. Pada akhirnya untuk memastikan keberlanjutan dominasi kelas yang menguasai negara, aparatus represif (RSA) dan aparatus ideologi (ISA) mesti bahu membahu bekerjasama dan berjalan beriringan.
Aparatus represif beroperasi melalui represi fisik dan administratif—namun lebih massif menggunakan represi fisik. Sedangkan aparatus ideologi beroperasi menggunakan represi juga, namun dalam bentuk yang lain, yaitu kepatuhan dan ketundukan secara tak sadar (interpelasi)—tapi bukan berarti tidak menggunakan represi fisik.
Teori Althusser mengenai aparatus ideologi negara (ISA) memberikan kerangka untuk menjelaskan bagaimana negara mempertahankan tatanan sosial melalui mekanisme non-koersif. Menurutnya, negara tidak hanya bergantung pada aparatus represif, tetapi terutama pada aparatus ideologis—termasuk lembaga agama, pendidikan, keluarga, media, dan hukum—yang berfungsi untuk mereproduksi relasi produksi secara terus-menerus melalui proses interpelasi ideologis. Melalui proses inilah individu dibentuk agar menerima posisi mereka dalam struktur sosial sebagai sesuatu yang wajar dan tidak dapat dipersoalkan.
Inilah inovasi utama Althusser, yakni pengenalan konsep aparatus ideologi negara (ISA), yang merupakan aparatus negara yang beragam/majemuk, tersebar, dan sebagian besar beroperasi di ranah privat (seperti sekolah, keluarga, agama, media, dan sistem politik). ISA berfungsi terutama dengan ideologi, dan secara sekunder dengan kekerasan atau sanksi. Aparatus-aparatus ini memastikan reproduksi relasi-relasi produksi dengan cara "sukarela" melalui pembentukan ideologi.[7]
ISA, khususnya sistem pendidikan (sekolah), adalah alat dominan kelas berkuasa dalam formasi sosial kapitalis. ISA menanamkan ideologi dominan, yang berfungsi untuk memanggil (menginterpelasi) individu menjadi subjek dan mengajari mereka "aturan main" (norma, nilai, kepatuhan) yang diperlukan untuk peran mereka dalam sistem produksi (sebagai pekerja patuh atau agen eksploitasi yang efektif).
Meskipun ISA menjadi tempat di mana ideologi kelas berkuasa direalisasikan, Althusser menekankan bahwa ideologi itu sendiri tidak "lahir" di dalam ISA. Sebaliknya, ideologi berasal dari kelas-kelas sosial yang saling berjuang dalam perjuangan kelas, berdasarkan kondisi keberadaan, praktik, dan pengalaman perjuangan mereka.[8]
Dengan demikian, ISA berfungsi sebagai medan di mana ideologi kelas berkuasa dipertahankan dan ideologi kelas yang dikuasai diukur dan dihadapi. Maksudnya meskipun ISA dikontrol oleh ideologi kelas berkuasa, ISA bukanlah sistem yang monolitik dan kebal. Althusser mengakui bahwa ISA juga merupakan medan perjuangan kelas yang konstan.
Ideologi kelas berkuasa harus selalu "mengukur" atau menghitung keberadaan ideologi tandingan (ideologi kelas yang dikuasai) yang muncul dari praktik dan perjuangan mereka. Dan Ideologi yang dikuasai ini (misalnya, gerakan buruh, gerakan keadilan sosial, atau pandangan kritis terhadap agama) hadir di dalam ISA (misalnya, guru yang radikal, pemberontakan siswa, atau media alternatif). Ideologi kelas berkuasa harus terus-menerus menghadapi dan menetralkan perlawanan ideologis ini agar tidak mengancam reproduksi sistem. Secara rinci, bagaimana ideologi bekerja dan apa itu ideologi menurut Althusser?
Tesis pertama, ideologi merepresentasikan hubungan imajiner individu dengan kondisi keberadaan riil mereka.[10] Ideologi, dalam pandangan ini, tidak difahami secara langsung memalsukan dunia, prosesnya agak panjang, dan melalui jalan memutar. Ideologi memberikan kepada individu sebuah representasi—sebuah kerangka cerita—yang diperlukan agar mereka dapat menemukan makna dan bertindak dalam realitas. Namun, kerangka cerita ini bersifat imajiner karena ia secara halus menyembunyikan dan mendistorsi struktur eksploitasi dan ketidakadilan yang sebenarnya. Ideologi membuat seorang pekerja, misalnya, merasa "bebas" dan "setara" saat menjual tenaganya, padahal hubungan di baliknya adalah hubungan eksploitasi. Dengan demikian, ideologi adalah sistem representasi yang meyakinkan subjek untuk menerima kondisi keberadaan mereka tanpa mempertanyakan dasar-dasar strukturalnya.
Tesis kedua, ideologi memiliki eksistensi material dan bekerja melalui Interpelasi subjek.[11] Althusser menolak pemisahan antara "ide" dan "materi." Baginya, ideologi bukanlah kabut spiritual yang melayang di pikiran, melainkan terwujud dalam praktik-praktik sehari-hari yang dilakukan individu dan diatur oleh aparatus ideologi negara (ISA) seperti sekolah, keluarga, atau institusi agama. Ketika seseorang menyatakan keyakinan (sebuah ide), ia membuktikan keyakinannya melalui ritual dan tindakan material (seperti menghadiri ibadah, mengikuti kurikulum sekolah, atau mengucapkan sumpah setia). Ideologi, dengan kata lain, terwujud dalam kebiasaan dan dalam institusi.
Proses paling krusial dari ideologi material ini adalah Interpelasi—tindakan "memanggil" individu menjadi subjek. Interpelasi adalah mekanisme yang mengubah individu pasif menjadi subjek yang berfungsi dan patuh, sering kali melalui ilusi "kebebasan." Althusser mengibaratkan interpelasi dengan panggilan polisi: "Hei, Anda di sana!" Begitu individu menoleh, mereka telah mengakui dan menerima diri mereka sebagai subjek yang bertanggung jawab di bawah hukum.[12] Ideologi berhasil ketika subjek secara "sukarela" mengakui dan menerima posisinya, sehingga memastikan kepatuhan mutlak yang diperlukan untuk mereproduksi sistem.
Dalam proses interpelasi ini bukan hanya “penerimaan” individu, tapi juga “pemanggilan” individu sebagai subjek. Di dalam ideologi, individu disituasikan seolah-olah setiap pilihan dan keputusannya adalah atas kehendak bebas individu tersebut, padahal individu tersebut sedang disituasikan untuk menjadi subjek bagi subjek lain. Dalam konteks pemanggilan polisi di atas, ideologi telah berhasil membentuk individu menjadi subjek warga negara yang baik, padahal subjek warga negara yang baik ini untuk mendistorsi kenyataan struktural yang hadir dalam negara yang dikuasai oleh kelas berkuasa. Proses ini oleh Althusser di sebut juga sebagai Ideologi menginterpelasi individu menjadi subjek.[13] Singkatnya, ideologi bagi Althusser adalah sistem material yang membuat kita percaya bahwa kita bebas memilih, padahal secara bersamaan, sistem itulah yang mengikat kita pada peran kita dalam reproduksi relasi-relasi produksi kapitalis.
Dalam konteks penelitian ini, khususnya ketika menganalisis pembentukan wacana anti-komunisme di Indonesia pasca 1965, aparatus negara—seperti institusi pendidikan, lembaga keagamaan, media, dan birokrasi—berperan aktif dalam memproduksi bentuk-bentuk ideologi yang menyajikan komunisme sebagai ancaman moral, politik, dan religius.
Melalui perspektif Althusser, kondisi ini dapat dipahami sebagai operasi sistematis ISA untuk memastikan keberlanjutan tatanan sosial tertentu melalui pembentukan kesadaran publik. Produksi makna religius yang menempatkan komunisme sebagai “musuh moral” merupakan salah satu contoh bagaimana aparatus keagamaan berfungsi sebagai instrumen ideologis negara. Pada titik ini, teologi pembebasan Asghar bisa digunakan sebagai wacana tanding yang menantang ideologi dominan kelas berkuasa.
Dengan demikian, teori RSA dan ISA sebagai perluasan dari teori negara Marxis-Leninis agar tidak "deskriptif" oleh Althusser ini mesti dipahami dalam kerangka sejarah masyarakat berkelas yang di dalamnya mensyaratkan perebutan negara. Sehingga, pemosisian teologi pembebasan Asghar sebagai ideologi tanding bagi ideologi kelas berkuasa—telah menghadirkan kontradiksi di dalam ISA dalam konteks perjuangan kelas—dalam penelitian ini menjadi relevan dalam batas-batas pembongkaran ideologi kelas berkuasa.
Dari paparan di atas setidaknya ada 4 konsep kunci yang relevan dalam penelitian ini, diantaranya:
a. Ideologi sebagai Representasi Imajiner
Althusser menekankan bahwa ideologi bukan refleksi realitas apa adanya, tetapi representasi imajiner tentang hubungan manusia dengan dunia. Ini membantu menjelaskan bagaimana Islam dapat ditafsirkan secara dogmatis atau pembebasan, tergantung posisi ideologis dan struktur sosial yang melingkupinya.
b. Interpelasi
Interpelasi adalah proses bagaimana individu "dipanggil" menjadi subjek ideologis. Dalam konteks Indonesia, konsep ini penting untuk membaca bagaimana negara memproduksi subjek anti-komunis melalui sekolah, media, institusi agama, dan budaya populer.
c. Aparatus Ideologi Negara (ISA) dan Aparatus Represif Negara (RSA)
Dua perangkat analisis ini menjadi penting untuk melihat: 1) Bagaimana Orde Baru memproduksi, menaturalisasi, dan mereproduksi stigma anti-komunisme melalui pendidikan, agama, film, dan media massa (ISA); 2) Bagaimana kekerasan fisik, penahanan, dan struktur hukum digunakan untuk memaksa kepatuhan (RSA).
Dengan memakai konsep ini, penelitian dapat menjelaskan bagaimana anti-komunisme bukan sekadar wacana, tetapi ideologi yang diorganisasi dan dilembagakan.
d. Reproduksi Relasi-relasi Produksi
Anti-komunisme dipahami sebagai bagian dari upaya negara untuk menstabilkan kapitalisme di Indonesia melalui kontrol ideologi. Teologi pembebasan Asghar kemudian diposisikan sebagai ideologi tandingan yang menantang reproduksi kondisi produksi eksploitatif ini.
Catatan kaki:
[1] Lih. Bahasan tentang materialisme historis Marx dan Engels di awal Bab II.
[2] Karl Marx and Friedrich Engels, Manifesto Partai Komunis, terj. PKI (PDF ed., ECONARCH Institute, 2009); V. I. Lenin, Negara dan Revolusi, terj. Ted Sprague (Marxist Internet Archive, 2023).
[3] Louis Althusser, Ideologi dan Aparatus Ideologi Negara, terj. Mohamad Zaki Husein (IndoPROGRESS, 2015), 30.
[4] Althusser, Ideologi dan Aparatus Ideologi Negara, 22.
[5] Althusser, Ideologi dan Aparatus Ideologi Negara, 23-39.
[6] Althusser, Ideologi dan Aparatus Ideologi Negara, 23-24.
[7] Althusser, Ideologi dan Aparatus Ideologi Negara, 25-26.
[8] Althusser, Ideologi dan Aparatus Ideologi Negara, 65.
[9] Althusser, Ideologi dan Aparatus Ideologi Negara, 39.
[10] Althusser, Ideologi dan Aparatus Ideologi Negara, 49.
[11] Althusser, Ideologi dan Aparatus Ideologi Negara, 55.
[12] Althusser, Ideologi dan Aparatus Ideologi Negara, 60-62.
[13] Althusser, Ideologi dan Aparatus Ideologi Negara, 51.

0 Komentar