Overdeterminasi

Perubahan sosial itu tidak ditentukan oleh satu faktor tunggal dan berjalan linear. Jika sejarah ditentukan oleh faktor tunggal, apa bedanya Marxisme dengan Idealisme, yang mengandaikan sesuatu adiluhung sebagai penggerak sejarah namun menipu. Sejarah bergerak secara overdetermined!
Perubahan sosial itu tidak ditentukan oleh satu faktor tunggal dan berjalan linear. Jika sejarah ditentukan oleh faktor tunggal, apa bedanya Marxisme dengan Idealisme, yang mengandaikan sesuatu adiluhung sebagai penggerak sejarah namun menipu. Sejarah bergerak secara overdetermined!

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Materialisme Historis sebagai Kerangka Pembacaan Agama dan Ideologi

2.1.2 Overdeterminasi sebagai Kerangka Membaca Kompleksitas

    Overdeterminasi adalah konsep kunci dalam Marxisme struktural Althusserian yang menolak penjelasan linear-kausal. Dalam penelitian ini, konsep ini digunakan untuk menunjukkan bahwa: a). Teologi pembebasan Asghar tidak lahir dari satu sumber tunggal (misalnya hanya dari Islam atau hanya dari pengalaman sosial), tetapi dari kondensasi berbagai kontradiksi material, historis, politik, dan teologis yang saling menentukan. b) Ideologi anti-komunisme Indonesia juga bukan produk faktor tunggal, melainkan hasil pertemuan kompleks antara trauma kolektif, intervensi militer, kepentingan geopolitik, kapitalisme negara, serta institusi pendidikan dan agama yang bekerja simultan.

Dengan konsep overdeterminasi, penelitian ini dapat memetakan hubungan-hubungan rumit antara agama, kelas, negara, dan ideologi tanpa terjebak pada analisis reduksionis atau determinis-ekonomi semata. Secara lebih rinci apa itu overdeterminasi?

    Konsep Overdeterminasi (overdetermination) Louis Althusser yang ditulis dalam Contradiction and Overdetermination, merupakan upaya fundamental untuk membebaskan pemikiran Marxis dari sisa-sisa idealisme, yang ia temukan masih ada di dalam pemikiran Marxis sebagai warisan dialektika Hegelian. Althusser memulai dengan mengkritik ambigunya gagasan tentang "membalik Hegel," yang baginya, dalam konteks tertentu (merujuk pada Feuerbach), hanya menghasilkan antropologi idealis, bukan materialisme historis yang sejati.[1]

    Menurut Althusser, dialektika yang dirumuskan oleh Marx—yang harus "diputar balik" untuk menemukan "inti rasional dalam cangkang mistis"—jauh lebih kompleks daripada sekadar pembalikan umum terhadap filsafat spekulatif.[2] Kritik utamanya tertuju pada konsep kontradiksi sederhana ala Hegel, di mana semua kontradiksi sosial, politik, atau ideologis pada akhirnya dapat direduksi menjadi satu kontradiksi yang tunggal dan murni (yaitu, kontradiksi dari Ide atau Roh yang sedang berkembang).

    Untuk menggantikan model Hegelian yang monolitik ini, Althusser memperkenalkan konsep kunci overdeterminasi. Diambil dari psikoanalisis Sigmund Freud, Overdeterminasi menjelaskan bahwa kontradiksi fundamental dalam basis ekonomi (misalnya, perjuangan kelas) tidak pernah muncul dalam keadaan murni. Sebaliknya, ia selalu dikondensasikan oleh, dan dipindahkan (terdistorsi) ke dalam, berbagai kontradiksi lain yang berasal dari suprastruktur (seperti hukum, institusi politik, dan ideologi).

    Overdeterminasi menegaskan bahwa suprastruktur memiliki efikasi spesifik dan otonomi relatif; ia bukan sekadar cerminan pasif dari basis ekonomi. Ini penting karena memungkinkan penulis menjelaskan kompleksitas dan kekhasan suatu formasi sosial. Lebih lanjut, konsep ini memungkinkan penjelasan tentang bagaimana masyarakat baru yang dihasilkan dari revolusi dapat memastikan kelangsungan hidup dan tidak mengaktifkan kembali elemen-elemen yang lebih tua (atau "sisa-sisa" sejarah) melalui bentuk suprastruktur dan kondisi spesifik (nasional dan internasional).

    Althusser secara tegas menyatakan bahwa sebuah dialektika yang kehilangan overdeterminasi akan tidak mampu menjelaskan isu-isu sejarah yang krusial. Ia mengambil contoh dari sejarah Soviet, ia berargumen bahwa mustahil untuk menjelaskan bagaimana rakyat Rusia menanggung kejahatan dan represi Stalin dan bagaimana partai Bolshevik menoleransinya, kecuali jika kita menolak seluruh logika Aufhebung Hegelian dan menerima kerangka overdeterminasi.[3] Dengan demikian, Overdeterminasi berfungsi sebagai penekanan pada kompleksitas struktural masyarakat, di mana berbagai tingkat (ekonomi, politik, ideologi) berinteraksi secara bersamaan untuk menghasilkan kontradiksi yang khas dan majemuk dalam setiap momen sejarah.

    Tidak berhenti sampai di sini, upaya Althusser “mematerialkan” Marxisme berlanjut pada pelampauan terhadap teori negara Marxis-Leninis. Di titik ini peran ISA dan ideologi sebagai mekanisme reproduksi relasi-relasi produksi, didudukan sebagai sesuatu yang juga fundamental sebagai syarat keberlanjutan formasi sosial yang hari-hari ini tegak berdiri (baca: kapitalisme). 


Catatan kaki: 

[1] Louis Althusser, "Contradiction and Overdetermination," New Left Review, no. 41 (Jan-Feb 1967): 15.

[2] Althusser, Contradiction and Overdetermination, 16-17.

[3] Althusser, Contradiction and Overdetermination, 34.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar