Materialisme Historis

Manusia harus mula-mulai memenuhi kebutuhan dasarnya dulu sebelum melakukan hal yang lain-lainnya. Sejarah tidak bisa dimulai dari manusia abstrak, sejarah harus mulai dari manusia konkrit dengan segala aktifitasnya.
Manusia harus mula-mulai memenuhi kebutuhan dasarnya dulu sebelum melakukan hal yang lain-lainnya. Sejarah tidak bisa dimulai dari manusia abstrak, sejarah harus mulai dari manusia konkrit dengan segala aktifitasnya.

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Materialisme Historis sebagai Kerangka Pembacaan Agama dan Ideologi

Sulit memahami teologi pembebasan Asghar Ali Engineer dan sejumlah teori yang disodorkan oleh Althusser tanpa terlebih dahulu memaparkan gambaran kasar mengenai konsepsi material tentang sejarah atau materialisme historis yang dirumuskan oleh Marx dan Engels. Oleh karenanya di sini penulis akan memaparkan terlebih dahulu gambaran kasar mengenai materialisme historis. Materialisme historis dalam penelitian ini selain digunakan sebagai perangkat analisis juga digunakan sebagai meta teori—yang menjadi pondasi bagi konsep-konsep kunci yang digunakan baik oleh Asghar maupun Althusser.

Dalam kaitannya dengan penelitian ini, materialisme historis dipahami sebagai pendekatan yang melihat agama bukan sebagai entitas metafisik yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari suprastruktur yang berkaitan erat dengan basis material, relasi produksi, dan dinamika kelas baik di level domistik maupun global. Dalam kerangka ini, agama dapat memuat potensi ambigu: ia bisa berfungsi sebagai legitimasi ideologi dominan, tetapi juga dapat menjadi senjata perlawanan terhadap struktur penindasan ketika dibaca melalui kontradiksi material yang melandasinya.

Konsep ini menjadi landasan untuk membaca bagaimana Asghar Ali Engineer membentuk teologi pembebasan Islam melalui pembacaan materialisme historis terhadap ajaran Islam sekaligus bagaimana teologi pembebasan Asghar Ali Engineer dibentuk oleh kondisi material dan struktur sosial India, serta bagaimana negara Indonesia membentuk narasi anti-komunisme sebagai ideologi dominan untuk mempertahankan relasi produksi dominan dan oleh karenanya relasi kuasa (Orde Baru).

Konsepsi material tentang sejarah (materialisme historis) yang dirumuskan Marx dan Engels berangkat dari satu premis dasar: manusia harus terlebih dahulu mampu memenuhi kebutuhan hidup materialnya (makan, minum, pakaian, tempat tinggal) sebelum ia dapat berpikir, berkesenian, beragama, berfilsafat, atau membangun institusi politik. Dengan kata lain, produksi kehidupan material merupakan kondisi eksistensial pertama bagi segala bentuk aktivitas kemanusiaan lainnya.[1]

Berbeda dengan binatang yang hanya beradaptasi secara pasif terhadap alam, manusia secara aktif memproduksi sarana hidupnya. Proses produksi ini tidak pernah bersifat individual belaka; sejak awal ia melibatkan kerjasama sosial dan pembagian kerja. Dengan demikian manusia kemudian menghasilkan alat-alat produksi, itulah yang disebut kekuatan produksi (productive force).[2]

Kekuatan produksi adalah segala sesuatu yang digunakan manusia untuk menguasai alam: alat-alat kerja, mesin, teknologi, ilmu pengetahuan, serta keterampilan dan pengetahuan tenaga kerja itu sendiri. Kekuatan produksi adalah unsur yang paling dinamis; ia tidak pernah berhenti berkembang. Pada saat itu sekaligus, manusia menghasilkan hubungan-hubungan sosial tertentu hal itu disebut juga hubungan produksi.[3]

Hubungan produksi adalah hubungan sosial yang terbentuk ketika manusia bekerja bersama, di dalamnya meliputi: siapa yang memiliki alat-alat produksi, siapa yang bekerja, bagaimana hasil produksi dibagi, dari situ bentuk dominasi serta subordinasi muncul. Hubungan ini biasanya berwujud hubungan kelas (tuan-budak, tuan tanah–petani, borjuis–proletar). Gabungan antara kekuatan produksi dan hubungan produksi itulah yang membentuk apa yang disebut cara produksi (mode of production) pada suatu periode sejarah.[4]

Cara produksi ini merupakan basis material (atau infrastruktur) masyarakat. Dari basis tersebut kemudian muncul apa yang disebut suprastruktur: sistem hukum, bentuk negara, ideologi, agama, seni, filsafat, dan bentuk-bentuk kesadaran sosial lainnya. Suprastruktur tidak bersifat otonom; ia pada akhirnya ditentukan dan dibatasi oleh basis material yang mendasarinya, meskipun terdapat pula pengaruh timbal balik yang kompleks.

Sejarah, menurut konsepsi ini, bergerak melalui perkembangan produktivitas manusia dan kontradiksi-kontradiksi internal yang muncul dari cara produksi, yang seringkali dimanifestasikan melalui perjuangan kelas (class struggle)/ pertarungan antar kelas sosial.[5]

Awalnya, hubungan produksi yang baru muncul sangat sesuai dengan tingkat kekuatan produksi — ia justru mendorong perkembangan kekuatan produksi. Namun karena kekuatan produksi terus berkembang tanpa henti, lambat laun hubungan produksi yang sama itu menjadi belenggu. Terjadilah kontradiksi antara kekuatan produksi dan hubungan produksi. Kontradiksi ini adalah motor utama sejarah.

Ketika kontradiksi ini mencapai puncaknya, ia mewujud dalam bentuk pertentangan kelas yang semakin tajam. Pertentangan/perjuangan kelas adalah bentuk konkret dari kontradiksi material tersebut. “Sejarah semua masyarakat yang ada sampai sekarang adalah sejarah perjuangan kelas,” tulis Marx dan Engels dalam Manifesto Komunis[6].

Pada titik tertentu, perjuangan kelas ini melahirkan revolusi sosial — lompatan kualitatif di mana hubungan produksi lama dihancurkan dan diganti dengan hubungan produksi baru yang lebih sesuai dengan kekuatan produksi yang telah berkembang. Inilah ciri satu formasi sosial ekonomi diganti oleh formasi yang lebih tinggi.

Pendekatan ini didasarkan pada dialektika materialis—Engels memahami dialektika bukan sebagai rangkaian rumus abstrak (tesis-antitesis-sintesis), melainkan sebagai hukum gerak dari kenyataan material itu sendiri. Dalam Anti-Dühring, ia menegaskan bahwa alam, masyarakat, dan pikiran manusia berada dalam kondisi perubahan yang terus-menerus, sehingga tidak dapat dipahami melalui konsep-konsep statis.[7]

Singkatnya, prinsip metodologis yang menjadi inti konsepsi material tentang sejarah dapat dirumuskan sebagai berikut: Bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaan mereka, melainkan keberadaan sosial merekalah yang menentukan kesadaran mereka — yang pada dasarnya adalah hubungan-hubungan produksi material yang menentukan kesadaran mereka.[8]

Dengan demikian, untuk memahami suatu masyarakat atau periode sejarah, analisis harus dimulai dari cara produksi yang konkret, hubungan kelas yang ditimbulkannya, serta kontradiksi-kontradiksi material yang sedang berlangsung — bukan dari doktrin, ideologi, atau nilai-nilai yang tampak di permukaan saja.

Namun, agar penelitian ini tidak terjatuh pada ekonomisme atau simplipikasi dialektika material yang selama ini membayang-bayangi Marxisme sebagai metodologi, di sini penulis menggunakan kacamata teoritik materialisme historis dari kacamata teoritik yang diajukan oleh Althusser mengenai overdeterminasi. Di mana hubungan pengaruh basis terhadap suprastruktur tidaklah mekanis/vulgar. Overdeterminasi menjelaskan bahwa kontradiksi fundamental dalam basis ekonomi (misalnya, perjuangan kelas) tidak pernah muncul dalam keadaan murni. Sebaliknya, ia selalu dikondensasikan oleh, dan dipindahkan (terdistorsi) ke dalam, berbagai kontradiksi lain yang berasal dari suprastruktur (seperti hukum, institusi politik, dan ideologi).[9]

Althusser mengembangkan secara sistematis apa yang oleh Marx dan Engels di sebut “pengaruh timbal balik” suprastruktur terhadap basis. Althusser memperkenalkan “otonomi relatif” suprastruktur[10] di samping “pengaruh timbal balik” suprastruktur dalam teori relasi basis-suprastruktur—yang berarti bahwa institusi, ideologi, dan praktik kultural memiliki logika operasional tersendiri dan dapat mengintervensi basis material, bukan sekadar merefleksikannya secara pasif.[11] Melalui apa yang di sebut oleh Althusser sebagai overdeterminasi itu.

Althusser menempatkan ekonomi (basis) sama seperti Engels dan Marx, oleh karenanya overdeterminasi adalah konsep yang sudah diisyaratkan oleh Marx dan Engels sendiri:

“produksi memang faktor penentu, tetapi hanya pada ‘instansi terakhir’: lebih dari ini tidak pernah dikemukakan oleh Marx maupun saya. Maka jika seseorang memelintirnya menjadi pernyataan bahwa unsur ekonomi adalah satu-satunya factor penentu, ia mengubah proposisi itu menjadi frasa yang tak bermakna, abstrak, dan kosong.”

“Situasi ekonomi adalah basisnya, tetapi berbagai unsur superstruktur—bentuk-bentuk politik perjuangan kelas dan akibat-akibatnya: konstitusi-konstitusi yang dibentuk kelas yang menang setelah pertempuran berhasil, dsb., bentuk-bentuk hukum, dan bahkan pantulan dari semua perjuangan nyata ini di otak para peserta, teori-teori politik, hukum, filosofis, pandangan-pandangan religius serta perkembangan lanjutannya menjadi sistem-sistem dogma—juga memberikan pengaruhnya terhadap jalannya perjuangan-perjuangan historis, dan dalam banyak kasus justru mendominasi penentuan bentuk mereka…”[12]

Dengan demikian, tersedia landasan teori bagi penulis untuk memposisikan agama “tidak hanya sekedar” pantulan suprastruktur dari basis material tertentu. Sehingga agama sebagai bagian dari suprastruktur—dapat berfungsi ganda, baik sebagai alat legitimasi dominasi kelas atau sebagai kekuatan kritik yang menantang struktur ekonomi yang eksploitatif—atau ikut serta mengintervensi basis ekonomi. Pemahaman ini menjadi landasan bagi penelitian ini untuk membaca teologi pembebasan Asghar Ali Engineer sebagai praktik ideologis yang emansipatoris/revolusioner.

2.1.2 Overdeterminasi sebagai Kerangka Membaca Kompleksitas

2.1.3 RSA, ISA, dan Ideologi Louis Althusser sebagai Kerangka Membaca Anti-Komunisme

2.1.4 Teologi Pembebasan Asghar Ali Engineer

Catatan Kaki:

[1] Karl Marx dan Friedrich Engels, Ideologi Jerman: Jilid I, Feurbach, terj. Nasikhul Mutamanna (Yogyakarta: Pustaka Nusantara, 2013), 10, 26-27.

[2] Marx dan Engels, Ideologi Jerman, 11.

[3] Marx dan Engels, Ideologi Jerman, 11.

[4] Marx dan  Engels, Ideologi Jerman, 11-20.

[5] Marx dan Engels, Ideologi Jerman, 33-43.

[6] Karl Marx and Friedrich Engels, Manifesto Partai Komunis, terj. PKI (PDF ed., ECONARCH Institute, 2009).

[7] Friedrich Engels, Anti-Dühring: Revolusi Herr Eugen Dühring dalam Ilmu Pengetahuan, terj. Oey Hay Djoen (Jakarta: Hasta Mitra & Ultimus, 2005).

[8]  Marx dan Engels, Ideologi Jerman, 19.

[9] Louis Althusser, "Contradiction and Overdetermination," New Left Review, no. 41 (Jan-Feb 1967): 22-24.

[10] Louis Althusser, Ideologi dan Aparatus Ideologi Negara, terj. Mohamad Zaki Husein (IndoPROGRESS, 2015), 17.

[11] Relasi basis-suprastruktur yang “otonomi relatif”dan “timbal balik”adalah tafsiran Althusser terhadap materialisme historis Marx dan Engels, menurutnya Marx dan Engels sendiri sudah seperti itu pemahamannya. Lebih lanjut, teori itu menurutnya masihlah bersifat teori “deskriptif”, ia sendiri dalam Ideologi dan Aparatus Ideologi Negara, terang terangan ingin melampaui teori deskriptif itu menggunakan sudut pandang “reproduksi”, dengan cara mengembangkannya.

[12] Surat Engels kepada J. Bloch, dikutif dalam Althusser, Contradiction and Overdetermination, 31. 

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar