Teologi Pembebasan Asghar Ali Engineer dan Gerakan Kiri: Analisis Marxis Struktural

Komunisme adalah hantu, yang membayang-bayangi militerisme dan relasi produksi eksploitatif di Indonesia. Penelitian ini juga adalah hantu--kerabat komunisme.
Komunisme adalah hantu, yang membayang-bayangi militerisme dan relasi produksi eksploitatif di Indonesia. Penelitian ini juga adalah hantu--kerabat komunisme.

1. Pendahuluan

1.1  Latar Belakang Masalah

     Wacana tentang agama kerap dipahami sebagai ranah spiritual yang terpisah dari realitas sosial. Dalam konteks modern, kritik Marxisme terhadap agama sering dianggap sebagai serangan terhadap ajaran agama itu sendiri, sehingga menimbulkan stigma bahwa komunisme identik dengan sikap anti-agama. Padahal, kritik Marxisme dibangun dalam kerangka materialisme historis yang menempatkan agama sebagai bagian dari suprastruktur yang terkait erat dengan realitas sosial, ekonomi, dan relasi kuasa.[1]

Kritik Marxisme terhadap agama bukanlah penolakan terhadap dimensi spiritual, melainkan kritik terhadap fungsi historis agama ketika dijadikan instrumen legitimasi relasi produksi yang eksploitatif dan reproduksi kesadaran palsu yang mengaburkan kontradiksi kelas. Kesimpulan ini bisa kita lihat dalam pemikiran Asghar Ali Engineer.[2]

    Dalam konteks Indonesia sendiri, stigma anti-agama terhadap komunisme bertransformasi menjadi ideologi negara yang sistematis, terutama setelah peristiwa pembantaian 1965–66. Orde Baru membangun narasi tunggal bahwa komunisme adalah musuh agama dan ancaman terhadap keutuhan nasional. Narasi tersebut dilembagakan melalui media, regulasi, dan kurikulum pendidikan. Rezim ini melakukan berbagai bentuk kekerasan: fisik, struktural, dan kultural, terhadap anasir kiri di Indonesia. [3] Mula-mula melalui pembantaian dan penahanan massal, yang kemudian berakibat pada kehancuran kesadaran politik dan tradisi mobilisasi massa di Indonesia.[4] Seiring berjalannya waktu, ideologi ini menjadi “mimpi buruk” /trauma kolektif masyarakat Indonesia, yang bertahan hingga masa pasca Reformasi, meskipun rezim Orde Baru selaku produsen terbesar dari narasi tersebut telah ditumbangkan oleh aksi massa.[5]

    Pasca 1998 (Reformasi), meskipun Orde Baru telah tumbang jejak ideologi anti-komunisme tetap mengakar kuat dalam ruang publik dan birokrasi negara. Beberapa kasus seperti kriminalisasi aktivis literasi kiri[6], pelarangan simbol, dan hukuman terhadap aktivis yang mengadvokasi isu struktural[7] menunjukkan bahwa narasi tersebut terus direproduksi. Di sisi lain, sistem ekonomi neoliberal tetap dipertahankan sebagai arah pembangunan nasional. Sistem ekonomi ini telah melahirkan kesenjangan sosial, eksploitasi ekonomi, dan marginalisasi politik kelas pekerja: buruh tani, dan kelas-kelas tertindas lainnya.

    Kondisi ini menciptakan kontradiksi material yang tajam: meskipun secara normatif Islam memegang doktrin rahmatan lil ‘alamin [8]—sebuah ideologi yang berpotensi emansipatoris—mayoritas penduduk muslim di Indonesia justru hidup di bawah struktur ekonomi-politik yang eksploitatif. Ironisnya, alih-alih menjadi kekuatan suprastruktur yang kritis terhadap basis material kapitalis-militeris, pemahaman keagamaan Islam dikooptasi dan dilembagakan sebagai aparatus ideologi negara (ISA) untuk melegitimasi status quo.

    Kooptasi ini dilakukan dengan memproduksi konsepsi ajaran Islam yang fatalistik, apolitis, dan dogmatis, yang secara efektif mengalihkan perhatian massa dari kontradiksi kelas dan membenarkan penindasan struktural. Fenomena ini menunjukkan bahwa agama, terlepas dari potensi etisnya, dapat bertransisi menjadi ideologi yang dominan dan melembaga, yang berfungsi menjaga dan mereproduksi relasi produksi yang eksploitatif, kecuali jika Islam dihadapkan dan dianalisis dalam kerangka materialisme historis—seperti yang sudah Asghar Ali Engineer lakukan.

    Dalam konteks pemikiran Islam kontemporer, Asghar Ali Engineer menawarkan konsep teologi pembebasan Islam yang berangkat dari pembacaan terhadap Islam menggunakan materialisme historis. Dari pembacaan macam itu, menurutnya Islam berpihak pada kaum tertindas sebagaimana pada masa awal kemunculannya di Mekah—yang membawa misi perubahan sosial melawan kedzaliman.[9]

    Islam bukan sekadar doktrin metafisik yang membingungkan dan abstrak—yang berkonsekuensi pada pembenaran terhadap status quo. Islam adalah ajaran yang revolusioner jika dibaca menggunakan kerangka materialisme historis, itulah konsepsi teologi pembebasan Islam menurut Asghar.[10]

    Misalnya, inspirasi teologi yang berwatak ‘pembebasan’ dalam sejarah Islam datang dari Qaramitah dan Khawarij. Dua aliran teologi ini disinyalir oleh Asghar bernuansa egalitarian dan anti-status quo.[11] Asghar mengingatkan bahwa agama selalu merupakan arena pertarungan ideologi: ia dapat menjadi alat legitimasi atau alat pembebasan. Dengan kata lain, agama dapat menjadi ideologi dominan atau menjadi ideologi tandingan bagi ideologi dominan.

    Dengan demikian, teologi pembebasan bukan sesuatu hal yang baru dalam sejarah umat Islam—watak ‘pembebasan’ ada di dalam Islam sejak awal-awal kemunculannya, dinamika pertentangan antara teologi pro-status quo dengan teologi pembebasan kerap terjadi dalam lintasan sejarah umat Islam hingga hari ini.

    Sedangkan dalam sejarah Indonesia, relasi Islam dan gerakan kiri sebenarnya pernah bertemu, misalnya dalam figur Haji Misbach dan Sarekat Islam Merah yang memaknai komunisme/sosialisme ilmiah sebagai wujud praksis keislaman yang berpihak pada rakyat tertindas.[12] Namun, memori sejarah tersebut terputus karena represi politik Orde Baru, sehingga hubungan Islam dan gerakan kiri saat ini tampak saling berseberangan.

    Padahal, kedua paradigma ini bisa memiliki titik temu dalam hal kritik terhadap eksploitasi, ketimpangan, dan relasi produksi dominan/kapitalisme—jika saja Islam difahami sebagai teologi yang ‘membebaskan’ (teologi pembebasan Islam) oleh mayoritas umat Islam Indonesia.

    Dari paparan di atas, ada berbagai macam problem yang hadir diantaranya: problem struktural, historis, teologis dan epistemologis. Berdasarkan problem struktural, historis, teologis dan epistemologis yang hadir tersebut, diperlukan model pemikiran yang dapat menjadi jembatan antara kesadaran teologis masyarakat muslim dengan perjuangan kelas dalam konteks ekonomi-politik Indonesia. Teologi pembebasan Asghar Ali Engineer, penulis asumsikan relevan untuk dipakai sebagai kerangka konseptual alternatif yang mampu merumuskan kembali posisi agama sebagai kekuatan pembebasan, bukan alat legitimasi struktur kekuasaan yang eksploitatif.

    Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengkaji pertautan gagasan teologi pembebasan Asghar Ali Engineer dengan gerakan kiri Indonesia — khususnya melalui perspektif analisis Materialisme Historis-Marxis struktural (Althusserian). Dalam memetakan hubungan tersebut, penelitian ini memandang bahwa baik konstruksi teologi pembebasan Asghar maupun reproduksi ideologi anti-komunisme di Indonesia merupakan fenomena yang bersifat overdetermined[13]: keduanya lahir dari kondensasi berbagai kontradiksi ekonomi, politik, ideologis, dan historis yang bekerja secara simultan, bukan dari sebab tunggal yang linear/mekanis. Sebab jika sejarah berjalan linier mestinya sejak dulu gerakan kiri bisa memenangkan perubahan sosial-revolusioner (rupture[14]), nyatanya tidak, sisa-sisa kekuatan lama terus mendesak dan berhasil naik ke puncak pada tahun 1965 dan sesudahnya.

    Dengan kerangka tersebut, penelitian ini berupaya menunjukkan signifikansi teoretis dan praksis dari pembacaan materialis terhadap Islam dalam konteks reproduksi ideologi anti-komunisme, sekaligus berkontribusi pada rekonstruksi memori historis Islam kiri di Indonesia yang selama hampir enam dekade telah dihapus, distigmatisasi, dan disamarkan dalam wacana publik. Meski demikian, meski gerakan kiri (baik yang Islam maupun yang bukan) pernah ditumpas lewat pembantaian 1965-66—dan oleh karenanya memori kolektif gerakan kiri beserta ideologinya di Indonesia—faktanya dari masa ke masa ideologi kiri terus hadir membayang-bayangi ideologi kelas berkuasa di dalam ISA. Dengan kata lain, hadirnya penelitian ini adalah upaya kontribusi memperkuat bayang-bayang tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

     Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas, dapat dilihat bahwa problem yang dikaji dalam penelitian ini tidak bersifat sederhana maupun tunggal. Konstruksi teologi pembebasan Asghar Ali Engineer, relasi historis Islam dan gerakan kiri di Indonesia, serta reproduksi relasi produksi melalui ideologi anti-komunisme sejak 1965 merupakan fenomena yang lahir dari tumpang tindih kontradiksi ekonomi, politik, ideologis, dan historis yang saling menentukan. Kompleksitas inilah yang menuntut penggunaan pendekatan Marxis struktural Althusserian — khususnya konsep overdetermination — agar penelitian dapat membaca pertemuan banyak struktur tersebut secara lebih memadai dan tidak terjebak pada penjelasan linear-kausal.

    Dengan mempertimbangkan berbagai dimensi dan kerumitan persoalan tersebut, penelitian ini memerlukan perumusan masalah yang mampu memetakan hubungan antara konstruksi teoretis Asghar Ali Engineer, operasi ideologi negara dalam sejarah Indonesia, serta kemungkinan perjumpaan keduanya dalam konteks perjuangan kelas pasca-1965. Oleh karena itu, penelitian ini merumuskan beberapa pertanyaan inti sebagai berikut:

  1. Bagaimana teologi pembebasan Asghar Ali Engineer dibentuk oleh kondisi material dan struktur sosial India, dan bagaimana pemikirannya dapat dianalisis melalui kerangka materialisme historis dan Marxisme struktural Althusserian?
  2. Bagaimana negara Indonesia membangun dan mereproduksi ideologi anti-komunisme melalui aparatus ideologi negara (ISA) dan aparatus represif negara (RSA) sejak 1965 hingga pasca Reformasi?
  3. Bagaimana titik temu konseptual antara teologi pembebasan Asghar dan strategi perlawanan ekonomi-politik gerakan kiri Indonesia (PKI dan PRD), terutama dalam kerangka kritik terhadap penindasan struktural?
  4. Bagaimana teologi pembebasan Asghar dapat berfungsi sebagai ideologi tandingan (counter-ideology) bagi gerakan kiri Indonesia dalam konteks reproduksi ideologi anti-komunis pasca 1965?

1.3 Batasan Penelitian 

     Untuk menjaga fokus analisis dan menghindari perluasan bahasan yang berlebihan, penelitian ini menetapkan sejumlah batasan kerja teoretis, historis, dan empiris. Pertama, penelitian ini tidak mengkaji seluruh spektrum pemikiran Asghar Ali Engineer, tetapi membatasi diri pada aspek-aspek pemikirannya yang berkaitan langsung dengan konstruksi teologi pembebasan—seperti kritiknya terhadap struktur kekuasaan, pembacaan materialis terhadap teks keagamaan, serta penekanannya pada keberpihakan Islam kepada kelompok tertindas. Pembahasan mengenai biografi, karya-karya fikih, maupun kontribusi Asghar di bidang reformasi hukum Islam hanya digunakan sejauh relevan untuk menjelaskan formasi teoretis teologi pembebasannya.

     Kedua, dalam membaca konteks Indonesia, penelitian ini memfokuskan kajian pada bagaimana negara dan rezim politik membangun serta mereproduksi ideologi anti-komunisme sejak 1965 hingga pasca Reformasi, terutama melalui aparatus ideologi negara (ISA) dan aparatus represif negara (RSA) sebagaimana dipahami dalam Marxisme struktural Althusserian. Penelitian tidak bertujuan menulis sejarah lengkap PKI, PRD, maupun seluruh perkembangan gerakan kiri Indonesia, tetapi hanya menyoroti aspek-aspek pemikiran dan strategi perlawanan mereka yang relevan untuk dianalisis bersama dengan konsep teologi pembebasan Asghar.

    Ketiga, penelitian ini membatasi diri pada pembacaan teoritis terhadap titik temu konseptual antara teologi pembebasan Islam dan kritik ekonomi-politik gerakan kiri. Artinya, penelitian tidak melakukan studi etnografis atau survei terhadap persepsi umat Islam maupun aktivis kiri kontemporer, melainkan berfokus pada analisis wacana dan teks. Fokus utamanya adalah menemukan relasi konseptual, bukan memetakan dinamika organisasi atau praktik sosial mutakhir secara empirik.

     Keempat, penggunaan kerangka Marxis struktural Althusserian—khususnya konsep overdetermination, ISA, dan RSA—dimaksudkan untuk membaca hubungan antara struktur material, ideologi agama, dan operasi kekuasaan negara. Dengan demikian, penelitian ini tidak mengupas seluruh perangkat teoritis Althusser, tetapi hanya unsur-unsur yang relevan dengan kebutuhan analisis. Kerangka ini digunakan untuk memahami bagaimana berbagai kontradiksi ekonomi, politik, dan ideologis berinteraksi secara kompleks dalam membentuk teologi pembebasan Asghar maupun ideologi anti-komunisme Indonesia.

    Dengan batasan-batasan tersebut, penelitian ini diarahkan untuk tetap fokus pada tujuan utamanya: menganalisis pertautan antara teologi pembebasan Asghar Ali Engineer dan dinamika gerakan kiri Indonesia melalui kacamata materialisme historis[15] dan Marxisme struktural (Althusserian), serta memahami signifikansinya dalam konteks reproduksi ideologi anti-komunisme pasca 1965.

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Materialisme Historis sebagai Kerangka Pembacaan Agama dan Ideologi


2.1.2 Overdeterminasi sebagai Kerangka Membaca Kompleksitas


2.1.3 RSA, ISA, dan Ideologi Louis Althusser sebagai Kerangka Membaca Anti-Komunisme


2.1.4 Teologi Pembebasan Asghar Ali Engineer


Catatan Kaki:

[1] Lihat konsepsi material tentang sejarah yang dimulai dari kritik Marx terhadap pengikut Hegel yang menurutnya hanya sedang menafsirkan agama Kristen menggunakan filsafat Hegel sehingga tidak mampu menghubungkan antara filsafat dengan realitas, dalam: Karl Marx dan Friedrich Engels, Ideologi Jerman: Jilid I, Feurbach, terj. Nasikhul Mutamanna (Yogyakarta: Pustaka Nusantara, 2013), 7-20.

[2] Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, terj. Agung Prihantoro (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), 1-4.

[3] Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme melalui Sastra dan Film (Tangerang Selatan: Marjin Kiri, 2014), 35-57.

[4] Max Lane, Unfinished Nation: Ingatan Revolusi  Aksi Massa dan Sejarah Indonesia (Yogyakarta: Djaman Baroe, 2013), 21.

[5] Kesimpulan Max Lane dalam Unfinished Nation. Menurutnya aksi massa di dalam negeri jadi faktor penting, di atas faktor-faktor eksternal (luar negeri) dan elite yang mendorong kejatuhan Soeharto/Orde Baru. Max Lane, Unfinished Nation, 19.

[6] “Mahasiswa Dihukum karena Buku Kiri,” BBC News Indonesia, 9 Maret 2017, https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39208090; “Dianggap Menyebarkan Komunisme,” Suara Pembaruan, 15 February 2018, http://sp.beritasatu.com/home/dianggap-menyebarkan-komunisme-mahasiswa-universitas-telkom-diskorsing/118549.

[7] R. Z. Hakim and Zuhana A. Zuhro, “Budi Pego,” Mongabay Indonesia, 26 January 2018, https://www.mongabay.co.id/2018/01/26/budi-pego-aktivis-penolak-tambang-tumpang-pitu-itu-kena-10-bulan-penjara.

[8] Qur'an, 21: 107.

[9] Lihat analisa Asghar mengenai Islam sebagai gerakan sosial di Mekah dan Madinah pada masa-masa awal kemunculannya dalam: Asghar Ali Engineer, Asal Usul dan Perkembangan Islam: Analisis Pertumbuhan Sosio-Ekonomi, terj. Imam Baehaqi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), 1-15; Kemudian lihat juga konsepsi teologi Pembebasan Asghar dalam: Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, 1-22.

[10] Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, 1-2.

[11] Asghar Ali Engineer, Islam dan Pembebasan, terj. Hairus Salim dan Imam Baihaqy (Yogyakarta: LKiS, 2007), 107-112.

[12] Haji Misbach, "Islamisme dan Sosialisme," dalam Tulisan-Tulisan Haji Misbach (Jakarta: Balai Pustaka, 1971).

[13] Louis Althusser, "Contradiction and Overdetermination," New Left Review, no. 41 (Jan-Feb 1967): 22-23.

[14] Rupture berarti bahwa sejarah tidak berjalan secara mulus, linear, atau dalam bentuk evolusi organik, melainkan ditandai oleh perubahan kualitatif yang radikal dan tiba-tiba (diskontinyu) yang memisahkan satu mode eksistensi atau pemikiran dari yang berikutnya. Konsep ini merupakan inti dari penolakan Althusser terhadap pandangan sejarah yang teleologis dan humanis (seperti yang sering ditemukan dalam Marxisme Hegelian atau Marxisme vulgar). Lih. Louis Althusser, Contradiction and Overdetermination, 22-28.

[15] Pendekatan materialisme historis akan dibahas secara teoritik di Bab 2. Pembahasan mengenai teori ini penting sebagai pengantar memahami Marxis struktural Althusserian.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar